Senin, 20 Februari 2012

PARA WALI AGUNG


Sabda Syaikh al ‘Umrithiy : “ seseorang diluhurkan karena mantap # dan tidak mendapatkan bagi yang tidak mantap”
Dalam catatan yang seluruhnya saya nuqil dari buku manaqib 50 Wali Agung oleh Maftuh Basthul Birri ini menerangkan 50 bahkan lebih Wali agung yang masyhur-masyhur. Beliau Maftuh Basthul Birri menerangkan begini : Semua keterangan saya nanti adalah ambilan dari kitab-kitabnya para Auliya’ yang kuat-kuat. Tidaklah berani saya buat-buat karangan sendiri atau dari katanya katanya dengan tanpa ada dasar melihat dari kitab-kitab tersebut.
Sabdanya panutan kita Wali qutub agung Imamul Muhaqqiqin Syaikh ‘Abdul Wahhab as Syaa’roniy yang setiap malamnya beliau melalang buana pada jagad raya ini di segala penjuru tempat mana saja oleh beliau diperiksa dan dikontrol, setelah cukup menerangkan semua akhlaqnya sendiri dalam kitabnya Minan Kubro kemudian beliau berkata begini : Semua yang sudah saya tutur dibanding dengan yang belum hanya bagaikan setetsnya air laut. Semua akhlaqnya paramurid hanya sepercikan air laut akhlaqnya para ‘arifin, semua akhlaqnya para ‘arifin hanya sepercikan air laut akhlaqnya para Anbiyya’ wal Mursalin.dan sabda-sabdanya para ‘Ulama’ dan Auliya’ itu tidak boleh diingkari, masak para kekasih Alloh itu sampai berdusta. Semua itu menunjukkan kekuasaan Tuhan. Berkata beliau Syaikh dalam kitab Thobaqotnya : Barang siapa mempelajari atau mendengar dan mantab terhadap isinya kitab ini berarti sama dengan menjumpai dan mendengar sabda-sabdanya para Wali yang tertutur itu. Karena tidak bisa berkumpul dan bergaul dengan guru dalam satu periode itu tidak bisa mencatatkan si murid di dalam mencintainya dan menyantrinya. Buktinya kita cinta beliau Nabi, para Sahabat, para Tabi’in dan para Imam itu semua kita sudah tidak menjumpai, akan tetapi kita bisa memakai sabdanya dan ikut perilakunya. Karena apapun yang dimantapi yang telah mantap positif dan bisa berhasil tidaklah perlu membutuhkan rupa orangnya. Maka siapa saja yang mengetahui isi kitab ini kok tidak tergugah jiwanya ingin meniru menjalankan yang begitu, orang ini dengan orang mati sama saja. Beliau Imam Sya’roniy setiap selesai menuturkan akhlaqnya sendiri dan akhaqnyaorang-orang sempurna serta penjelasannya, kemudian berkata supaya berakhlaq yang begitu. Kalau tidak mau harus diam. Begitulah sabda Imam Sya’roniy.
Para beliau sabda-sabdanya di dalam kitab-kitabnya mempunyai istilah-istilah yang banyak, seperti istilah ilmu tashowwuf, shufiy, shufiyyah, qoum, faqir, fuqoro’, miskin, murid, salik, suluk, hal, thoriq, thoriqoh, wushul, mahabbah, bronto, mendem/mabuk, edan/majnun dengan Alloh. Mengenai hatif mendengar suara, impian atau berupa tulisan ini nanti merupakan ilhamnya para Wali yang sudah betul-betul minalloh bukan dari syetan, dan tidak bertentangan dengan syare’at, al Quar dan Hadits. Istilah-istilah ini semua dan lain sebagainya perlu difahami lebih dulu. Kemudian nanti jika sabda-sabdanya tidak atau kurang bisa dipahami, maka caranya serahkanlah kepada Alloh. Dalam catatan ini akan diterangkan langsung tentang sebagian para Auliyya’ tanpa menerangkan para sahabat terlebih dahulu, Rodliyallohu ‘anhum.
Sabdanya Wali Qutub Ghouts Imam Ibnul ‘Arobiy yang beliau terkenal pendapatnya tidak hanya sundul langit, semua para Auliyya’ ‘Ulama’ setelahnya merasa tambah terbuka dan membanggakan atas pendapat-pendapatnya. Semua pendapatnya bersumber dari al Quran dan Hadits dan dari ilmu yang langsung min ‘idznillah.
Dalam kitabnya Futuhatul Makkiyyah beliau Syaikh menerangkan yang ringkasnya begini, sbb : Alloh Swt. mempunyai orang-orang yang khusus dan menjadi pilihanNya diantara para hambaNya semua sejak dari kakek Adam As. ila yaumil qiyaamah selalu ada. Yaitu orang-orang yang mempunyai pangkat Rosul, Nabi, Wali, dan Imam, yang tertinggiadalah pangkat Rosul. Para beliau-beliau itulah yang menjadi Qutub/pusat sentral, pimpinan dan “paku-paku” Alloh yang digunakan untuk memelihara alam dunia ini sebagaimana terjaganya bangunan rumah dengan empat pojok. Agama ibarat rumah, empat pangkat tadi adalah ibaratnya empat pojok. Setelah beliau Nabi Saw. wafat, agama dan syari’at tidak terganti lagi, maka Alloh menetapkan Rosul masih ada empat yang masih hidup untuk menetapi dan meneruskan syari’at Nabi kita, sebagai keramat beliau Nabi kita Saw. yaitu Nabi Idris As. yang berada di langit tingkat empat. Semua langit tujuh itu masih termasuk dalam ruang lingkupnya alam dunia. Dan Nabi Ilyas Sa. Nabi ‘Isa As. dan Nabi Khodir As. Nabi empat inilah sebagai Autad (paku bumi) yang dua sebagai Imamnya yang satu sebagai Qutubnya. Qutub itu sebagai pusat jurusan incaran Alloh melihat alam dunia. Para Auloyya’ pada zamannya masing-masing adalah berfungsi bagaikan kenabian pada zamannya. Para Auliyya’ itu banyak sekali tingkatan-tingkatannya dan masing-masing mempunyai nama gelar tersendiri. Ada bilangannya yang terbatas dan ada uyang tidak terbatas banyak sekali. Adapun yang terbatas hitungannya ialah, sbb:
1. Wali Qutub setiap zaman hanya satu orang, ini juga bernama Wali Ghouts (pusat pertolongan) yang menjadi gusti (pimpinan) semua manusia pada zamannya. Para Wali Qutub ini pemerintahannya ada yang full lahir batin dan ada yang hanya batinhnya saja. Yang full memerintah lahir batin ialah kholifah Abu Bakar, ‘Umar. ‘Utsman,’Ali, Hasan, Mu’awiyyah, ‘Umar bin ‘abdul Aziz. Yang banyak hanya memerintah bidang batin saja seperti Wali Qutub Imam Abu Yazid al Basthomi Ra.
2.  Wali Imam/Aimmah setiap zaman hanya dua orang dan mberkedudukan menggantikan Wali Qutub sewaktu wafat.
3. Wali Autad (paku jagat) setiapzaman hanya ada empat orang.
4. Wali abdal ada 7 orang, ada yang mengatakan 40 orang. Nama Adal artinya ganti karena apabila Wali ini sedang bepergian meninggalkan ganti dirinya dengan bayangan ruhani yang kelihatan persis dengan orangnya. Siapa orang mempunyai kekuatan ini, adalah Wali Abdal. Adapun syarat menjadi Wali Abdal ada 4, yaitu : lapar, berjaga, diam dan menjauhkan diri. Dan selanjutnya. Bayak hadits-hadits yang menerangkan jumlah bilangan para Wali Alloh seperti dalam kitab Fatawal Haditsiyyah libni Hajar. Semua itu selalu ada di bumi ini, kalau ada yangmati lalu ada yang menggantikannya.dan sebab ara Auliyya’ itulah Alloh Swt. menetapkan bumi, menolak bilahi petaka,menolong umat dari misuh, memberi hujan dan lain sebagainya.

1 komentar: